ANALYSIS OF PSYCHOMOTOR DOMAIN AS A RELEVANT FACTOR IN THE UNDERSTANDING OF MATHEMATICAL CONCEPTS


INTRODUCTION
Dari zaman dahulu, matematika, induk dari segala bidang ilmu telah menjadi komponen penting dalam asal peradaban. Demikian pula, psikomotor dari asal mula penciptaan harus dilakukan dengan keterampilan manipulatif. Misalnya, dari pria zaman batu, petani dan gembala yang menggunakan perangkat yang cocok untuk memeriksa penghitungannya, misal kerikil, kerang, batu, tongkat, gumpalan tanah, goresan di tanah, simpul di tali, takik pada tongkat, dan klub untuk berburu, ke modern ahli kimia, mengukur cairan dan zat padat, fisikawan mengukur ruang padat, dan gerakan, ahli biologi mengukur pertumbuhan, simetri lengkungan benda-benda hidup seperti wanita cantik; ekonom mengukur sifat manusia, produksi uang, permintaan dan penawaran, kepada sarjana sastra yang mengukur irama kata-kata, pidato, matematikawan mengukur apresiasi keindahan alam yang diungkapkan garis, padatan dan struktur. Insinyur mengukur massa, berat dan proporsi penting untuk materi, matematika dan psikomotor telah dan masih memainkan peran luar biasa yang tidak hanya saling melengkapi, tetapi telah menyederhanakan pembelajaran, pemahaman, pemikiran, dan perasaan menjadi hal yang konkrit dan aksi. Emenalor (1986: 4) dalam makalah yang dipresentasikan pada seminar dan lokakarya tentang "fobia matematika dan psikologi pembelajaran matematika menekankan bahwa: Guru matematika harus mulai berbicara tentang matematika yang berlaku yaitu matematika diterapkan untuk kebutuhan dan tuntutan masyarakat dan pengembangan teknologi itu. Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa, jika ada, matematika hadir, kegagalan massa di matematika seharusnya diminimalkan. Matematika harus terkait dengan lingkungan, karena kita sekarang menyadari bahwa hampir semua usaha mengandung unsur gerak, tindakan, aktivitas dan pergerakan motorik dalam memproduksi garis-garis geometris, bentuk, dan padatan. Pada benda-benda yang pas ke dalam alur, lubang-lubang seperti menempatkan plug ke dalam mesin, perkelahian knot, memompa ban, instruksi verbalisasi, menggerakkan tangan dengan tanda-tanda matematika; membangun struktur dan mengukur dimensi mereka. Ini melibatkan psikomotor & presisi.

PERTANYAAN.
1. Untuk meningkatkan kemampuan psikomotorik siswa, serta untuk membangun pemahaman siswa terhadap perbandingan sudut pada materi trigonometri di kelas X yang terkait dengan cabang ilmu lain seperti ilmu arsitektur, guru memberi proyek kepada siswa untuk mengukur tinggi tiang tertinggi yang menyangga menara gentala Al-Rasyi. Mungkinkah hal itu bisa diterapkan dengan cara menggunakan konsep sudut elevasi? mengingat resiko yang mungkin terjadi.

Komentar

  1. kalau menurut saya kita bisa menggunakan konsep sudut elevasi apabila dihitung dari pijakan kita,namun jika harus menghitung tinggi tiang yang tertancap hal tersebut belum bisa diselesaikan dengan menggunakan konsep sudut elevasi pada kelas X karena kita tidak bisa mengestimasi seberapa panjang tiang yg tenggelam sehingga jika ada persoalan seperti itu harus dijelaskan lebih detail

    BalasHapus
  2. Bisa, tapi hanya mengukur tinggi tiang dari tanah sampai ujung. Tidak bisa mengukur panjang tiang dari dalam tanah sampi ujung. Untuk menanamkan konsep sepertinya tidak harus menghitung dari dalam tanah, cukup dari tanah sampai ujung.

    BalasHapus
  3. Mnurut saya bisa. Tetapi hanya bisa mengukur dr tanah smpai ke ujung menara. Tetapu utk mengukur tiang dr bwah tanh tidak bisa menggunakan sudut elevasi.

    BalasHapus
  4. seperti yang telah disampaikan oleh temen temen sehingga untuk menghitung seluruh tiang adalah dengan menambahkan hasil perhitungan tadi dengan tinggi tiang dari jembatan hingga dasar sungai batanghari

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Kognitif dalam Matematika

Penilaian Autentik Pembelajaran Matematika

Desain Penilaian Kinerja (Performance) dalam Pembelajaran Matematika