Penilaian Autentik Pembelajaran Matematika


Pada kegiatan pembelajaran matematika penilaian merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh seorang guru. Penilaian bisa dilakukan pada saat sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, ketika pembelajaran sedang berlangsung, dan di akhir kegiatan pembelajaran. Penilaian dilakukan untuk mengetahui beberapa hal, diantaranya saja yaitu mendapatkan informasi tentang kemampuan hasil belajar siswa atau informasi ketercapaian peserta didik. Hasil penilaian tersebut dapat menjadikan bahan acuan balikan atau feedback bagi guru sebagai bahan refleksi dari kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan atau sebagai bahan masukan pembelajaran berikutnya. Kegiatan penilaian ini dapat pula menjawab pertanyaan seberapa baikkah atau berhasilkah hasil belajar peserta didik. Ketercapaian kompetensi dari peserta didik dapat ditunjukkan dari proses penilaian. Suherman dan Sukjaya (1991) memaparkan penilaian merupakan suatu pernyataan yang didasarkan dari sejumlah fakta yang diperoleh yang berguna untuk menjelaskan karakteristik dari seseorang atau sesuatu.

Penilaian merupakan suatu kegiatan untuk memberikan gambaran berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh yang berkaitan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik tentang proses, serta hasil yang telah dicapai siswa. Penilaian berfokus pada peserta didik sebagai subjek kegiatan belajar dan tidak sedikit pun menyinggung komponen-komponen pembelajaran lainnya. 
Penilaian dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan yang sistematis  dan berkesinambungan dalam rangka mengumpulkan informasi mengenai proses dan hasil belajar peserta didik dalam rangka penentuan nilai yang akan diberikan berdasarkan kriteria dan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Penilaian yang dilakukan secara bermakna, menyeluruh, berkesinambungan dan berlandaskan pada Kurikulum 2013 dengan dasar Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan, yaitu penilaian autentik. Pada kegiatan pembelajaran matematika penilaian secara autentik dapat memberikan informasi yang banyak dari pencapaian hasil belajar siswa secara terperinci.
Penilaian autentik (authentic assesment) menurut (Pusat Kurikulum, 2009) merupakan proses serangkaian kegiatan pengumpulan data , pelaporan informasi yang menjelaskan perolehan hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip- prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti yang nyata atau autentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. Nurhadi (Hendriana dan Utari, 2014) memaparkan penilaian autentik merupakan kegiatan penilaian dari hasil pencapaian kinerja siswa yan dilakukan melalui berbagai teknik atau strategi, di mana siswa mampu menyampaikan kembali, melakukan, membuktikan, menunjukkan secara tepat, sebagai cerminan bahwa tujuan pembelajaran sudah tercapai.

Dari paparan di atas penilaian autentik diuraikan sebagai penilaian dari perkembangan siswa, karena berpusat pada perkembangan kemampuan dari belajar siswa, untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Asesmen autentik harus dapat menguraikan dari gambaran sikap, keterampilan, dan pengetahuan baik yang sudah maupun belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka mampu mengaplikasikan pengetahuannya, dalam menyelesaikan pemecahaan masalahan matematis atau kehidupan sehari-hari. Atas dasar itu, guru dapat melihat dan menganalisis kira-kira materi apa saja yang sudah layak untuk dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan.

Karakter penilaian pada kegiatan penilaian autentik tidak hanya berorientasi pada karakteristik yang dimunculkan siswa, tetapi mencakup karakteristik metode pembelajaran, kurikulum yang sedang digunakan, fasilitas dan administrasi sekolah. Para siswa tidak hanya mengerjakan atau melakukan kegiatan sesuai dengan instruksi guru, tetapi dapat pula menunjukkan perilaku tertentu yang diinginkan sesuai rumusan tujuan pembelajaran, tetapi mampu mengerjakan sesuatu yang terkait dengan aplikasi pada konteks kehidupan nyata. Penilaian autentik tidak hanya terkait dengan produk atau hasil suatu proses kegiatan pembelajaran, tetapi mencakup pada semua proses kegiatan belajar mengajar.

PRINSIP PENILAIAN AUTENTIK

Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.
1.    Objektif, berarti penilaian berbasis pada standar (prosedur dan kriteria yangg jelas) dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilaian
2.    Terpadu, berarti penilaian oleh pendidikan  dilakukan secara terencana, menyatu dengaan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.
3.    Ekonomis, berarti penilaian yangg efesien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya.
4.    Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapattt diakses oleh semua pihak.
5.    Akuntable, berarti penilaian  dapattt dipertanggung jawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untukk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.
6.    Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengaan mengikuti langkah-langkah baku.
7.    Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.

  Ruang Lingkup, Teknik, Dan Instrumen Penilaian
1.     Ruang Lingkup Penilaian
Penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yangg dilakukan secara berimbang sehingga dapattt digunakan untukk menentukan posisi relative setiap peserta didik terhadap standar yangg telah ditetapkan.Cakupan penilaian merujuk pada ruanng lingkup materi, kompetensi mata pelajaran atau kompetensi muatan atau kompetensi program, dan proses.
2.     Teknik dan Istrumen Penilaian
Teknik dan instrument yangg digunakan untukk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut.
a.     Penilaian kompetensi sikap
Pendidik  melakukan  penilaian  kompetensi  sikap  melalui  observasi, penilaian  diri (self assessment),  penilaian  “teman  sejawat” (peer  evaluation)  oleh peserta  didik  dan  jurnal.  Instrumen  yangg  digunakan  untukk observasi, penilaian  diri,  dan  penilaian  antarpeserta  didik  ialah daftar  cek  atau  skala penilaian  (rating  scale)  yangg  disertai  rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
1)    Observasi
Observasi merupakan teknik penilaian  yangg dilakukan secara berkesinambungan dengaan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengaan menggunakan pedoman observasi yangg berisi sejumlah indicator perilaku yangg diamati.
Kriteria instrument observasi:
a)    Mengukur aspek sikap (bukan pengetahuan atau keterampilan) yangg dituntut pada Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar.
b)    Sesuai dengaan kompetensi yangg akan diukur.
c)     Memuat indikator sikap yangg dapattt diobservasi.
d)    Mudah atau feasible untukk digunakan.
e)     Dapattt merekam sikap peserta didik.
2)    Penilaian Diri
Penilaian Diri merupakan teknik penilaian dengaan cara meminta peserta didik untukk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrument yangg digunakan berupa lembar penilaian diri. Penggunaan teknik ini dapattt memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan teknik penilaian diri dalam penilaian di kelas sebagai berikut:
a)    Dapattt menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;
b)    Peserta didik menyadariii kekuatan dan kelemahan dirinya, harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yangg dimilikinya;
c)     Dapattt mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untukk jujur dan obyektif dalam melakukan penilaian.
Kriteria instrument penilaian diri:
a)   Kriteria penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak
      bermakna ganda
b)   Bahasa lugas dan dapat dipahami peserta didik
c)   Menggunakan format sederhana yang mudah dipahami peserta didik
d)   Menunjukkan kemampuan peserta didik dalam situasi yang nyata atau
      sebenarnya
e)    Mengungkapkan kekuatan dan kelemahan capaian kompetensi 
      peserta didik
f)    Bermakna, mengarahkan peserta didik untuk memahami kemampuannya
g)   Mengukur target kemampuan yangg akan diukur (valid)
h)   Memuat indikator kunci atau indikator esensial yang menunjukkan
      kemampuan yangg akan diukur
i)    Memetakan kemampuan peserta didik dariiiterendah sampai tertinggi
3)    Penilaian Antar Peserta Didik
Penilaian Antar Peserta Didik merupakan teknik penilaian dengaan cara meminta peserta didik untukk untukk saling menilai terkait dengaan pencapaian kompetensi. Penilaian ini merupakan bentuk pennilaian untukk melatih peserta didik penilai menjadi pembelajar yangg baik.  Instrumen yangg digunakan berupa lembar penilaian antar peserta didik.
Kriteria instrument penilaian atar teman:
a)    Sesuai dengaan kompetensi dan indikator yangg akan diukur
b)    Indikator dapattt dilakukan melalui pengamatan peserta didik
c)    Kriteria penilaian dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak
       berpotensi munculnya penafsiran makna ganda atau berbeda
d)    Menggunakan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik
e)    Menggunakan format sederhana dan mudah digunakan oleh peserta didik
 f)    Indikator menunjukkan sikap peserta didik dalam situasi yang nyata atau
       sebenarnya dan  dapat diukur
g)     Instrumen dapattt mengukur target kemampuan yang akan diukur (valid)
h)    Memuat indikator kunci atau esensial yangg menunjukkan penguasaan satu
       kompetensi peserta didik
i)   Mampu memetakan sikap peserta didik dari kemampuan pada level terendah
     sampai kemampuan tertinggi.


Pertanyaan: 


 1. Hasil Ujian Nasional merupakan tolak ukur keberhasilan siswa dalam pembelajaran selama tiga tahun, dan hasilnya juga digunakan untuk dasar mendaftar sekolah kedinasan seperti AKPOL dan STIS. Bagaimana menurut saudara hal tersebut terkait dengan penilaian auntentik?

2. Ketika ulangan matematika sebut saja Aldo mendapatkan nilai sempurna, diluar prediksi anda sebagai guru yang sehari-hari mengajar dan membimbingnya. Dan anda sangat tidak yakin jika hasil ulangan tersebut adalah benar-benar jawaban murni dari si Aldo. Namun di sisi lain, anda sudah mengatur tempat duduk yang berjauhan antar siswa dan mengumpulkan handphone siswa ketika ulangan agar tidak terjadi pelanggaran. Bagaimana cara anda menyikapi hal tersebut? 

Komentar

  1. Kalau hasil ujian nasional srbagai tolak ukur menurut pendapat saya itu sangatlah tdk tepat d karena ujian nya sangat berbeda sekali dg di daerah, ad d suatu daerah itu masih mmberikan jwban kepada siswa ketika ujian nasional, utk itu sangatlh tdk sesuai apbla nalai UN itu sbgai tolak ukur.

    BalasHapus
  2. Kalau hasil ujian nasional srbagai tolak ukur menurut pendapat saya itu sangatlah tdk tepat d karena ujian nya sangat berbeda sekali dg di daerah, ad d suatu daerah itu masih mmberikan jwban kepada siswa ketika ujian nasional, utk itu sangatlh tdk sesuai apbla nalai UN itu sbgai tolak ukur.

    BalasHapus
  3. 1. Jika semata-mata Nilai UN saja yg dijadikan tolok ukur kelulusan tentunya bukanlah hal yang tepat, karna bertentangan dengan penilaian dalam kurikulum 2013 yaitu penilaian autentik. Penilaian autentik itu penilaian proses jadi bukan hanya kognitifnya saja, bukan nilai akhirnya saja, tetapi keterampilan dan sikap perlu dipertimbangkan. Setiap tahun tentu pemerintah melakukan analisis dan perbaikan mengenai penilaian, jika dulu penilaian kelulusan hanya dari nilai UN, sekarang kelulusan ditentukan oleh sekolah, penilaian dari sekolah telah dipertimbangkan.

    2. Tetap tegas mengawasi saat ujian. Soal yg diberikan berupa essay yg membutuhkan langkah-langkah penyelesaian yang runtut. Jika Aldo menjawab ujiannya dengan langkah-langkah yang benar, berarti kita sebagai guru tidak boleh su'udzon. Bisa jadi semalam sebelum ujian Aldo belajar mati-matian 😀. Tapi jika Aldo curang tentu kita bisa lihat dari langkah per langkah dari jawabannya, bisa jadi jawaban akhir benar tapi langkah salah.

    BalasHapus
  4. 1. Tidak setuju jika hanya nilai UN saja yang menjadi tolak ukur, karena dlam penilaian autentik semua harus dinilai mulai dari sikap, pengetahuan, hingga keterampilan. Dan proses pun dalam pembelajaran juga.

    2. Jika guru memang benar2 tidak yakin dengan aldo, guru biasa memberikan tes ulang kepada aldo. Jika dia memang bisa menjawab dengan sempurna maka guru harus menerimanya dan sebagai seorang guru tidak boleh berfikiran negatif mungkin saja ia benar2 belajar ketika akan menghadapi ujian.

    BalasHapus
  5. 1. Nilai UN bukan prioritas sebagai nilai keberhasilan siswa, tingkat keberhasilan siswa,memang semua perguruan tinggi ataupun setiap kita mencari suatu pekerjaan mempunyai standar penilaian dilihat dari segi nilai UN sebagai salah satu syarat dari pihak yang menyeleksi, oleh karena itu pentingnya suatu pembelajaran yang dilakukan selama 3 tahun tersebut, agar nilai siswa lebih baik karena siswa bersungguh2 untuk mendapatkan nilai yang diharapkan, karena siswa berusaha untuk mendapatkan nilai lebih baik, maka muncullah suatu proses penilaian autentik yang dilakukan oleh setiap guru, akan tetapi pada saat siswa melanjutkan studi, setiap menyeleksi pasti memiliki tes ujian tertulis, maka sebelumnya dari nilai autentik tersebut dapat mempengaruhi agar siswa sudah mempersiapkan diri untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

    2. Apabila guru masih belum mempercayai nilai aldo, bisa dilakukan tes ulang ataupun direkap dengan kegiatan sehari2 aldo didalam pembelajaran dilihat dari penilaian autentik yang dilakukan oleh guru.

    BalasHapus
  6. 1. Sebagimana yang telah kita ketahui bahwa UN hanya menilai kognitif atau pengetahuannya saja. Sementara itu pada penilaian autentik seperti, yang telah dijelaskan didalam blog ini penilaian autentik itu mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yangg dilakukan secara berimbang, sehingga nilai UAS juga harus dipertimbangkan

    2. Jika guru masih belum percaya, ada baiknya dilihat lagi ke lembar jawaban siswa dan bagaimana keterampilan dia menjawab dan prosedur penyelesaiannya, jika memang benar, maka kita harus berbangga hati karena kita berhasil mengajarkan pengetahuan dengan benar. Tetapi jika masih ada keganjalan maka perlu kita flashback lagi pada proses-proses pembelajaran yang telah kita lakukan. dan buat prosedur penilaian autentik yang juga menilai sikap, pengetahuan dan keterampilan secara berimbang.

    BalasHapus
  7. 1. jika semata-mata nilai UN yang menjadi dasar atau acuan untuk melanjutkan keperguruan tinggi atau sekolah tinggi maka, penilaian autentik tidak sejalan dengan kasus tersebut, karena pada dasarnya untuk kurikulum K 13 penilaian yang digunakan ialah penilaian proses yang mengacu pada penilaian kognitif. afektif dan psikomotor.

    BalasHapus
  8. Menurut saya, Hasil Ujian Nasional jangan menjadi tolak ukur keberhasilan siswa untuk mendaftar sekolah kedinasan seperti AKPOL dan STIS karena harus mempertimbangkan persyaratan lainnya.
    Dan tiga elemen penilaian autentik harus diperhatikan seperti nilai UAS . Karena nilai UAS sudah ada penilaian kognitif, afektif dan psikomotor.


    2. Saat siswa mendapat nilai tinggi saat ulangan matematika, siswa haruslah memberikan apresiasi kepada siswa tersebut.
    Ada 2 kemungkinan siswa dalam keseharian mendapat nilai rendah tapi saat ulangan mendapat nilai tinggi.
    1. siswa tersebut bisa saja memiliki kecerdasan dalam mengingat dan memahami pelajaran dengan melihat tanpa menulis.
    2. Siswa tersebut cerdik bukan berarti pintar. Dia cerdik dalam belajar, tahu tak tik dalam mencontek tanpa diketahui teman dan guru.

    Tetapi, agar guru percaya bahwa hasil tersebut hasil sendiri atau bukan, guru bisa mengetes ulang dengan ulangan tersebut.
    Ambil soal yang sama tetapi buat angka yang berbeda.

    BalasHapus
  9. nomor 2 menurut saya jika kondisi telah di atur sedemikian rupa dan ternyata diluar prediksi bahwa anak mndapat nilai sempurna tidak sama dengan nilai hariannya. saya rasa guru tidak perlu merasa curia, mungkin memang si anak ketika menghadapi ujian dia bersungguh sungguh dalam belajar, dalam penilaian autentik kan nilai harian juga ikut andil dalam pengolahan nilai akhir..

    BalasHapus
  10. Kasus 1, menurut saya itu tentu menyalahi prosedur. Penilaian autentik karena proses. Tidak dinilai.

    BalasHapus
  11. 1. menurut saya kalau hanya mengandalkan hasil UN itu sangat tidak efektif

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Kognitif dalam Matematika

Desain Penilaian Kinerja (Performance) dalam Pembelajaran Matematika