Penilaian Afektif

Penilaian terhadap hasil pembelajaran afektif diperlukan, salah satunya karena praktik penilaian terhadap pendidikan dan proses pembelajaran yang terjadi selama ini lebih menekankan pada aspek kognitif. Akibatnya, lembaga pendidikan formal sekolah lebih banyak menghasilkan lulusan yang memiliki penguasaan aspek kognitif cukup memadai, tetapi kurang memiliki aspek afektif positif seseuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakatnya serta kurang memiliki ketrampilan untuk menjalankan kehidupan di lingkungannya.

Penilaian hasil belajar ranah afektif tidak cocok kalau diukur dengan teknik tes karena aspek yang diukur adalah terkait dengan sikap dan nilai-nilai. Teknik penilaian yang cocok adalah dengan non tes.

Paling tidak ada lima karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.

Sikap
Sikap merupakan kecenderungan merespon secara konsisten tentang menyukai atau tidak menyukai suatu objek. Sikap bisa positif atau negatif. Menurut Secord dan Beckmen yang menyatakan sikap adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan, pemikiran dan tindakan seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.
Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dll.

Minat
Menurut Getzel (1966:98), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melaui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan pencapaian.
Penilaian minat dapat digunakan untuk : mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran, mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya, pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,  menggambarkan keadaan langsung dilapangan, mengelompokan peserta didik yang memiliki minat sama.

Konsep diri
Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peseta didik dengan tepat.

Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan tantang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianngap baik atau buruk. Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Definisi laintentang nilai disampaikan oleh Tyler, yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya suatu pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna.

Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

Penilaian ranah afektif diartikan sebagai penilaian terhadap sikap (respon atau minat, perasaan dan emosi) dan nilai (perilaku yang sesuai dengan kepatutan agama serta sosial) yang lebih sulit diukur dari pada ranah lainnya. Rana afektif menjadi lebih rinci lagi kedalam lima jenjang, yaitu :

Receiving atau attending (menerima atau memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan atau stimulus dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Contoh hasil belajar afektif jenjang receiving, misalnya: peserta didik menyadari bahwa disiplin wajib ditegakkan, sifat malas dan tidak berdisiplin harus disingkirkan jauh-jauh.

Responding ( menanggapi) mengandung arti "adanya partisipasi aktif". Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Contoh hasil belajar ranah afektif jenjang responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajari lebih jauh atau menggali lebih dalam lagi, ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.

Valuing (menilai/menghargai). Menilai atau mengahargai artinya memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apbila kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Contoh hasil belajar afektif jenjang valuing ada;ah tumbuhnya kemauan yang kuat pada diri peserta didik untuk berlaku disiplin, baik disekolah, dirumah maupun ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Organization (mengatur/mengorganisasikan) artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang lebih universal, yang membawa kepada perbaikan umum. Contohnya yaitu peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional yang telah dicanangkan oleh bapak presiden Soeharto pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1995. Mengatur atau mengorganisasikan ini merupakan jenjang sikap atau nilai yang lebih tinggi lagi ketimbang receiving, responding dan valuing.

Characterization by a value or value Complex (Karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Contoh belajar afektif pada jenjang ini adalah siswa telah memiliki nilai kebulatan sikapwujudnya peserta didik menjadikan perintah Allah SWT yang tertera dalam al-Qur'an surat al-'Ashr sebagai pegangan hidupnya dalam hal yang menyangkut kedisiplinan, baik kedisiplinan di sekolah, di rumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.


Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda ketika ada seorang guru yang lebih mengutamakan sikap daripada kognitif? dengan anggapan bahwa orang yang paling berhasil adalah orang yang memiliki kemampuan afektif yang baik.

Komentar

  1. Jika saya sebagai guru.. dan saya lebih mengutamakan sikap dari kognitif. Karena bagi saya sikap lebih baik dari kognitif.. percuma saja jika seoarang siswa memiliki kemampuan kognitif yang baik.. tetapi tidak memiliki sikap yang baik.. justru itu yang kurang baik

    BalasHapus
  2. Menurut saya itu baik, karena seperti misi Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak manusia

    BalasHapus
  3. Menurut saya sebagai guru tidak perlu mendominasikan penilaian tertentu karena sesuai dengan prosedur penilaian, baik penilaian afektif, kognitif maupun psikomotorik sudah ada porsinya masing- masing.

    BalasHapus
  4. untuk penilaian afektif itu bisa saja dilakukan lebih tinggi dibandingkan kognitif, karena apabila dilihat dari afektif siswa akan terbiasa sifat disiplin waktu, taat dan patuh.

    BalasHapus
  5. Menurut saya, lebih penting sikap dari pada kognitif karna, apabila sikap seorang peserta didik itu bagus maka kognitif nya juga akan lebih bagus

    BalasHapus
  6. Menurut saya, lebih penting sikap dari pada kognitif karna, apabila sikap seorang peserta didik itu bagus maka kognitif nya juga akan lebih bagus

    BalasHapus
  7. lebih baik afektif dibandingkan kognitif

    BalasHapus
  8. Sebenarnya penting kedua duanya netapi law kita hnya melihat kognitif tanpa afektih

    BalasHapus
  9. Sebenarnya penting kedua duanya netapi law kita hnya melihat kognitif tanpa afektih

    BalasHapus
  10. kalau menurut saya kedua-duanya sangat penting, jadi tidak boleh lebih condong ke salah 1 penilaian saja

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Kognitif dalam Matematika

Penilaian Autentik Pembelajaran Matematika

Desain Penilaian Kinerja (Performance) dalam Pembelajaran Matematika